Resensi Novel Student Hidjo Mas Marco Kartodikromo
Resensi Novel Student Hidjo
Judul: Student Hidjo
Penulis: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit: Narasi
Tahun terbit; 2010 cetakan pertama
ISBN: 979-168-239-9
Sebeulmnya saya agak hype berhasil meneukan novel yang terbilang langka. Dengna kocek yang lumayan akhrinya saya bisa membeli novel karya Mas Marco Kartodikromo ini.
Sebelumnya Mas Marco Kartokromo merupakan jurnalis awal abad 20-an diaman masa itu Indonesia sedang mengalama masa pergerakan nasional. Mas Marco ini, ia seorang jurnalis sama seperti R.M Tirto Adhi yang disebut bapak junalis Indonesia. Mas Marco ini juga pernah bergabung dengan organisasi pergerakan nasional SI pada masa pergerakan. Banyak tulisannya mengkritik pemerintahan Hindia Belanda. Banyak yang ditulisnya salah satunya novel ini pula, tapi ia diasingkan di Boeven Digul dan meninggal disana.
Novel ini saya rasa ada bubu-bumbu perlawanan terhadap Hindia Belanda, juga saya rasa novel inimemberikan bumbu akan harus bangga menjadi rakyat Bumiputri. Pada salah satu bab ada dimana seorang menir dari Belanda, yang bertingkahs semena-mena terhadap rakyat Bumiputra. Ia mencaci, mencela rakyat Bumiputra itu dengan umpatan yang kotor. Tapi ada tokoh Walter ia seorang controlleur Residen Djarak, yang membela rakyat Bumiputra dengan tulisan yagn memukul simenir tersebut. Dalam paparan tulisan yang diberikan Walter itu, wawasan saya agaknya terbuka, dimana inti dari tulisan itu ialah kebanyakan orang yang sok kuasa di Hindia Belanda ia bukan apa-apa di Belanda, karena hidup enak di Indonesia mereka beritnkah layaknya tuan. tapi itu pula salah orang Bumiputra yang sering merasa minder terhadap para menir-menir yang dibilang adatnya lebih rendah dari adat JAwa. Tentu saja.
Awal kisah dimulai dengan kesedihan dan keetidakrelaan Raden Nganten Ibu dari Hidjo, yang tak rela ia sekolah di Delf, belanda menjadi Insinyur.tapi dengan kua hati ayah Hidjo myakinkan Raden Nganten agar anaknya tetap berlabuh di ngeri orang.ada bebrapa hal yang mearik pada awal cerita dimana ketika Raden Potronojo yang inign agar anaknya menjadi insiyur supaya sanak familinya yang memandangnnnya rendah dapat menelan ludahnya sendiri. Cerita berpusat pada perjalanan pendidikan Hidjo di Belanda serta kisah cinta yang berputar antara Raden Ajeng Biroe yang semula dijodohkan dengan Hidjo, Raden Ajeng Wongoe yang saling cinta dengan Hidjo, Raden Wardojo yagn mencntai Biroe, adapula Walter tokoh Belanda diatas tadi, serta Betje yang merupakan anak dari tuan di Belanda, tempat Hidjo tinggal serta sanak keluarga Hidjo dan kepala Residen Djarak yang merupakan keluarga Wongoe dan Wardojo. Kisah cinta dari tokoh-tokoh ini agak rumit, tapi menarik untuk diikuti. Cinta yan diceritakan dalam novel ini segalanya masih terbentuk dan masih kental dengan budaya adat Jawa.menarik pula Hidjo seorang yagn lugu, juga hilang kontrol ketika tergoda oleh Betje dengan adab Eropa yang lebih terbuka.
Sepanjang jalan cerita dangat menarik untuk diikuti, kebanyaka berputar tentang perjalanan Hidjo di Belanda namun, novel ini juga menceritakan tentang kisah-kisah sanak famili Hidjo yang ada di Jawa. Ada satu bab yang menjadi favorit saya, yakni ketika Sarekat Islam mengadakan kongres afdeling di Solo. Dalam suasanan yagn dituliskan betapa orang-orang bahagia menyabut kongres SI di Solo. Suasananmengagumkan juga digambarkan seperti ketika semua kerta kuda telah disewa dan berbederaa bulan sabit dan bintang yang merupakan bendera SI. Juga pula suasana masyarakat Solo yagn beramai-ramai ingin melihat kongres SI di taman Sriwedari, tak luput pula Biroe Wongoe, dan Wardojo. Sebagian besar novel menggambarkan bagaimana adat orang Jawa yagn sopan dan saling menghormati, sebagi bukti diaparkan pada bab-bab akhir di novel. Novel ini secara tidak langsung menceritakan suatukisah percintaan yang sangat langka, yang jarang saya temui di novel-novel romantis yang pernah saya baca. Seuatu cinta yang masih memegang teguh adat, ini merupakan hal yang unik untuk dibaca dimasa kini.
Untuk penulisan novel ini agaknya sudah mudah dipahami, memang ada beberapa kata-kata bahasa Belanda yagn terselip dalam Novel, tapi dibawahnya terdapat catatan kaki yang membuat kita mengetahui artinya. Selain itu degan adanya kata-kata Belanda juga menambah sedikit kosa-kata bahasa Belanda kita. Meski begitu adda beberapa kalimat yagn masih menggunakan ejaan lama, emamng sulit dibaca, tapi lumayan untuk dipahami.
Rating dari saya 8.3/10

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel Student Hidjo Mas Marco Kartodikromo"
Posting Komentar